19 April 2008

Petualangan

Hari ini aku menjalankan tugas kerjaku untuk mencari beberapa client yang berstatus 'wanted'. Aku bersama partner kerjaku, seorang cewek yang lebih muda dariku tapi sudah berkeluarga, menempuh jarak ke arah barat sekitar 15 kilometer dari pusat kota dengan motor untuk menemui client bermasalah itu.

15 kilometer sebenarnya bukan jarak yang terlampau jauh untuk kami tempuh dengan motor. Tapi 15 kilometer ternyata cukup signifikan untuk merubah suasana kota yang padat dan ramai menjadi suasana desa yang jarang dan sepi. Woowww... kami tiba di pedesaan yang tak hanya sepi, tapi juga tanpa lampu jalan sedangkan sore sudah mulai remang-remang. Memang karena suatu alasan kami hanya punya waktu untuk 'kunjungan' itu pada sore hari.

Kami harus bertanya kesana kemari untuk menemukan rumah client pertama yang ternyata, setelah kami temukan rumahnya orang yang bersangkutan tidak ada di rumah. Kami hanya bisa pasrah menghadapi salah satu anggota keluarganya yang benar-benara tidak tahu apa-apa. Kami harus menunda urusan dengan client pertama.

Menemukan client kedua yang masih satu wilayah kecamatan dengan client pertama justru lebih makan hati. Kami sampai nyasar berkali-kali untuk mengikuti petunjuk yang diberikan oleh orang-orang yang kami tanyai. Dengan susah payah kami akhirnya berhasil menemukan Dusun Saradan. Kami bertanya kepada segerombol ibu-ibu yang sedang ngrumpi di perempatan gang (kebiasaan yang tak asing di dunia ibu-ibu terutama di daerah bukan kota).

"Bu, numpang tanya, rumah Mas Hari Purwanto yang mana ya?"

"Ooo... Mas Hari-nya Giyem ya?"

"Iya, iya..." (Giyem? siapa itu? emang gw pikirin... yang penting dijawab iya dulu lah).

"Rumahnya di deret gang sebelah utara itu yang letaknya paling timur..."

Setelah berterimakasih kami pun dengan optimis menuju ke rumah yang sudah ditunjukkan ibu-ibu tapi. Tapi surprise...! Setelah dengan yakin kami sampai di rumah yang ditunjukkan ibu-ibu tadi, kami pun bertanya kepada salah satu penghuni rumah apakah benar di rumah itu ada yang bernama Hari Purwanto, dan si empunya rumah hanya geleng-geleng dengan lugu. Bahkan ketika kami juga bertanya apakah di rumah itu ada yang bernama Giyem, si empunya rumah tetap konsisten dengan geleng-gelengnya. Malah salah satu tetangga yang ikut nimbrung menyuruh kami untuk mencari di deret gang berikutnya.

Kami pun berusaha tidak menyerah karena sudah jauh-jauh dari kota ke dusun yang membingungkan itu. Kami menemui salah satu orang dusun yang kebetulan ada di luar rumah.

"Pak, numpang tanya, di dusun ini apa ada yang bernama Hari Purwanto? Kalau ada rumahnya sebelah mana ya?"

"Ooo... Hari-nya Giyem ya?"

"Iya iya, Hari-nya Giyem" (OMG... ternyata Giyem ini lebih populer dibanding Hari Purwanto yang kami cari. Ya sudah, ngikut aja...)

"Rumah yang paling timur itu Mas!"

Nah... Akhirnya orang tadi menunjukkan rumah itu dengan jelas karena memang ternyata tak jauh dari situ. Kami pun jadi optimis lagi mendatangi rumah yang ditunjuk tadi. Begitu kami tiba di depan rumah itu kami sudah disambut dengan ramah oleh salah satu empunya rumah. Dengan beramah tamah pula kami bertanya untuk memastikan.

"Betul ini rumahnya Mas Hari Purwanto, Pak?"

"Lho... bukan mas, yang tinggal di sini namanya Hari Setyobudi. Itu anak saya..."

Gubrakkkk... Nyasar lagiiii....

"Tapi ini betul tempatnya Bu Giyem Pak?" tanya temanku (gak penting tapi nekat...)

"Iya, Giyem itu istri saya... Tapi anak saya namanya Hari Setyobudi, bukan Hari Purwanto..."

Kami berdua shock. Tambah shock lagi, orang-orang dusun mulai berduyun-duyun ikut nimbrung dan mengintrograsi kami. Mampuusss... Geger sudah dusun nan tentram ini gara-gara kami cari alamat gak jelas!

"Oo, Hari Purwanto rumahnya yang sana Mas, pojok gang yang sebelum ini!" tiba-tiba salah satu warga dusun ada yang interupsi.

Orang yang tadi memberitahu kami rumah Bu Giyem cuma manggut-manggut sambil nimbrung, "Oo, jadi yang tinggal di sini bukan Hari Purwanto tho?" Halaahhh...

"Bisa tunjukkan kami yang rumahnya Mas Hari Purwanto Pak?" tanyaku ke orang yang tadi interupsi.

"Kalau Hari Purwanto-nya sudah sebulan ini kerja di Malaysia Mas, jadi TKI..."

Tuh kannn.... DAMN ! DAMN ! DAMN !!!!!

Akhirnya kami pulang dengan perasaan gagal dan malu pada diri sendiri karena tak menghasilkan prestasi kerja yang bagus hari ini. Client yang bersangkutan tidak ada di rumah itu memang di luar kendali kami. Tapi setidaknya kami mestinya bisa menghemat waktu supaya pencarian untuk client-client yang lain tidak terhambat. Waktu kami ludes di Dusun Saradan yang benar-benar menyesatkan kami. Siapa yang salah? Orang-orang dusun yang sukses memberi alamat sesat? Bu Giyem yang terlalu populer sehingga mengecoh spekulasi kami? Atau kami yang terlalu pede mempercayai petunjuk dari orang-orang dusun yang hobi ngrumpi? Terserah. Yang pasti kami masih harus mengejar wanted client yang lain.

Jalan gelap. Tidak rata. Melewati sawah-sawah. 5 kilometer dari jalan raya. Itulah yang kami hadapi untuk keluar dari Dusun Saradan. Temanku cewek membonceng di belakang tidak bisa mendiamkan mulutnya. Tapi setidaknya aku mulai terhibur dengan kelatahannya. Karena dia penakut di tempat gelap dan sepi, sepanjang jalan dia membaca doa-doa nonstop. Ketika kami melewati sebuah kuburan, makin keraslah dia berdoa. Padahal di hari-hari biasa, setahuku dia tak pernah menyentuh sajadah. Ternyata dia pandai bahasa Arab kalau lagi berdoa.

Kami lega bisa keluar dari Dusun Saradan. Kami sampai di pusat kota lagi. Tapi kini kami harus menuju ke timur sejauh 5 kilometer dari pusat kota. Client ketiga adalah client yang sangat bermasalah, seorang anak SMA yang sepertinya gagal dididik PPKn. Kali ini dengan mudah kami berhasil menemukan rumahnya.

Tapi lagi-lagi, bukan orangnya langsung yang kami temui karena yang bersangkutan sedang keluar rumah, tapi ayahnya yang bertampang galak. Tapi karena sudah bertekad bulat, kami tetap menjelaskan masalahnya supaya bisa mendapatkan solusinya. Kami harus berbicara secara alot dengan ayah client kami. Untung ternyata sang bapak tidak emosional. Tampangnya galak, tapi jalan bicaranya logis dan kooperatif. Sang bapak geram-geram begitu tahu masalah anaknya. Bahkan sang ibupun ikut campur sampai berdebat sengit dengan sang bapak. Kun Fayakuun... Jadilah yang harus terjadi, suami istri cek cok di depan kami yang sebenarnya hanya ingin ketemu anaknya.

Dan si anak pun akhirnya pulang. Meledaklah drama keluarga di rumah itu. Sang ibu menampar anaknya di depan kami. Wooowww... Kekerasan dalam rumah tangga yang biasanya hanya kami lihat di film atau sinetron kini benar-benar terjadi di depan mata kami. Kami sebenarnya tak berharap drama ini terjadi, setidaknya bukan di depan kami.

Tapi, yang penting akhirnya kami lega karena masalah dengan client kali ini dapat diselesaikan. Kami akhirnya pulang dengan tidak terlalu malu karena setidaknya ada hasil yang dibawa. Hanya saja, kami harus rela dikerjai hujan dalam perjalanan pulang kami. Heuuhhh... Melelahkan.

Hari ini, dari apa yang telah aku hadapi dalam tugas pekerjaanku, aku merasa hidup itu seperti petasan. Kadang kita menyalakan tindakan dengan sangat optimis, tapi nyatanya berakhir dengan 'mlempem' alias 'mejen'. Tapi kadang tindakan yang kita nyalakan memang bisa 'meledak' dengan sukses. Yang paling aman memang tidak usah menyulut petasan itu. Tapi kalau kita tak pernah menyulut petasan, kita juga tak akan pernah merasakan sensasi dari ledakannya.

17 April 2008

Arti Sebuah Perhatian

Siapa orang yang suka menyempatkan diri untuk bertanya-tanya apakah kau sudah makan, apakah kau sudah mandi, atau kau sedang apa? Ada? Mungkin dia adalah ibumu. Atau mungkin ayahmu, atau kakakmu atau adikmu. Apakah terasa akan beda jika itu tak ditanyakan padamu? Terasa kau lebih bebas, atau terasa kau kurang diperhatikan? Penerimaan dan perasaan orang pasti beda-beda. Ok.

Tapi aku teringat dengan seseorang yang selalu membuatku merasa lebih kuat ketika dia mengirim sms untuk sekedar bertanya, "Yank, udah makan?" Atau dengan sempat-sempatnya mengirim sms untuk menyuruh, "Awan, bangun! Udah siang waktunya maem. Mandi dulu!" Mungkin rasanya bawel kalau yang melakukan adalah orang lain. Kalau dia bukan pacarku, aku pasti sudah balas smsnya, "Cape deee..." Tapi dia orang yang dengan cintanya mau memberiku perhatian yang walaupun kecil tapi terasa menguatkanku. Dia memberiku tanda bahwa dia ada di suatu tempat memikirkanku, tak membiarkan aku berpikir sendiri. Aku merasa lebih kuat dengan perhatiannya yang tulus.

Kami tak lagi pacaran karena suatu hal. Tapi sms-smsnya masih tersimpan di ponselku dan sesekali masih kubuka untuk mengingatkanku akan arti sebuah perhatian. Perhatian yang tak menyerah oleh jarak yang memisahkan kami. Apa yang kusimpan tentangnya, masih memberikan kekuatan yang dulu pernah kurasakan. Kami masih mencintai meski hasrat untuk memiliki tak penuh lagi.

Aga, I miss you honey...

16 April 2008

Dalam Kenangan

Kenya, 1928.

Di sebuah perkebunan kopi di pinggiran Pegunungan Kenya, terdengar suara Konser Klarinet Mozart mengalun dari sebuah gramaphone yang diputar di beranda sebuah rumah bergaya Eropa. Seorang gadis muda berwajah bundar tampak berseri-seri, setengah berlari kecil menghampiri seorang pemuda yang sedang berbaring di sebuah kursi malas di beranda rumah itu.

“Surat untukmu, Joseph…” kata gadis itu sambil menyodorkan sebuah amplop kepada pemuda yang ada di hadapannya. “Ini dari Richard…” sambungnya.

Joseph, pemuda itu, meraih amplop surat tadi. Diletakkannya amplop itu dengan dua telapak tangannya di atas dada. Dia memejamkan mata.

“Tidak kau buka? Itu dari Richard…” tanya gadis tadi tampak agak heran.

Joseph masih terdiam saja. Dia tak menjawab sampai sementara waktu. Pelan-pelan ia mulai membuka matanya lagi. Tatapan matanya kosong dan jauh. “Richard pasti akan datang, Emily…” jawabnya kemudian.

Gadis itu, yang bernama Emily, dengan wajah kecut membalikkan badan dan beranjak dengan lesu tanpa berusaha memberi komentar apa-apa. Sesaat sebelum masuk ke dalam rumah, ia masih menoleh lagi dan menatap Joseph. Murung Emily meraut tak tersembunyi dari wajahnya, ronanya yang tadi sempat berseri kini pudar. Sejenak saja ia menatap dan lalu segera beranjak dari hadapan Joseph.

Joseph masih tetap di beranda itu di atas kursi malasnya. Matanya mulai menerawang. Tatapannya menelusup melewati halaman rumah, melewati lereng-lereng kebun kopi, sampai ke barisan perbukitan di kejauhan di bawah naungan langit sore awal bulan April. Cakrawala sore tampak melukis ornamen-ornamen cahaya dengan warna indah, kuning keemasan di atas tanah Kenya yang telah dibasahi hujan siang tadi. Joseph, jiwanya dari dalam hati mulai bergerak naik mengarungi memori di kepalanya. Ia bergumam seorang diri.

“Richard, aku menunggu kau datang lagi… Aku akan menyambutmu. Kita akan seperti dulu lagi. Berjalan menyusuri kebun kopi, menghirup harum yang menyusupi udara bukit. Bertualang menyeberang sabana dan bukit-bukit Kenya. Mendengar nyanyian Kikuyu atau Samburu di kejauhan. Menaiki tanah tinggi menuju Danau Sonachi, tempat di mana kita sering berenang…” Joseph menggumam seorang diri. Matanya terpejam lagi. “Seperti dulu, Richard… Dan kita melepas lelah di beranda ini. Minum teh di perkebunan kopi… Haha… Seperti biasa… Seperti dulu…”

Joseph mulai berhenti bergumam. Matanya memejam. Tampaknya ia mulai tertidur. Sementara itu gramaphone di sampingnya masih memutar rekaman Konser Klarinet Mozart. Selain itu, semua tampak senyap di antara udara basah musim penghujan Kenya. Hari sudah mulai senja.


Danau Sonachi, 1927.

Sinar mentari memantul kembali dari permukaan air danau, menyelinapkan kilauan-kilauan cahaya di atmosfer sore yang ranum. Dua orang pemuda di pinggir danau menangkap nuansa cakrawala yang indah itu, bercengkrama.

“Sudah yang ke berapa Richard?”

“Sudah yang ke empat kalinya kita kemari.”

“Tapi kali ini lebih indah dibanding yang dulu…”

“Aku tahu kau suka dengan langit sore yang berwarna kuning. Tapi bagiku udara kali ini tidak begitu nyaman, Joseph. Terasa lebih dingin dari biasanya…”

Joseph tersenyum-senyum sambil menyibakkan air danau dengan tangannya. “Dulu kita kemari pada waktu musim masih panas. Sekarang memang lebih dingin.” Ia lalu memandang ke arah Richard. “Padahal kita selalu berenang bila kemari. Kau baru saja berkata bahwa saat ini tidak baik untuk berenang…” sindir Joseph.

Richard merenung-renung. “Aku tidak ingin berenang. Rasanya memang sedang tidak nyaman. Aku merasa mudah sakit akhir-akhir ini…” Richard terlihat murung.

Joseph memandangi Richard. Ia melangkah mendekat, duduk di samping Richard di atas tanah yang sedikit berumput. “Kalau begitu aku juga tidak berenang…” cetus Joseph.

Richard merengkuh bahu Joseph yang ada di sampingnya, dan melekatkannya ke tubuhnya. Richard mengusap rambut Joseph yang pirang. Mereka berdua terdiam, menatap danau.

“Kenapa kau baru bilang kalau kau sedang tidak enak badan? Kita tak perlu kemari bila kau sedang tak sehat?” tanya Joseph pada Richard.

“Aku ingin menikmati waktu kita selagi masih di sini…” jawab Richard pelan. Sejenak mereka terdiam lagi.

“Aku sudah mengatakannya padamu beberapa kali bukan?” lanjut Richard.

“Tak usah kau katakan lagi…” balas Joseph dengan nada yang berubah dingin.

Richard sebenarnya merasakan beban berat di dalam hatinya. “Kau harus mengerti Joseph, aku harus pergi…Aku akan kembali ke Inggris…”

Joseph menghela nafas dalam. Akhirnya ia menanggapi juga. “Apa kau harus?”

“Ini bukan masalah keinginan kita. Aku hanya di sini bersama keluargaku selagi ayahku menjalani masa jabatannya di sini. Sekarang saatnya kami harus pulang ke Inggris… Aku ingin supaya kau bisa mengerti keadaan ini” jelas Richard.

“Itu artinya, kau tak akan kembali lagi ke Kenya?” tanya Joseph. Ia menatap wajah Richard. Mata mereka pun bertemu dalam satu tatapan.

“Aku tak tahu. Aku tak akan punya tempat tinggal lagi di Kenya.” Jawab Richard.

“Kau bisa tinggal di rumahku, Richard. Aku akan menjelaskan pada keluargaku…” sergah Joseph terdengar berusaha membujuk Richard.

“Apa alasan yang akan kau jelaskan pada keluargamu? Kau, atau aku, tak akan bisa menjadikan hubungan kita ini sebagai alasan bagiku untuk tinggal denganmu…” jelas Richard dengan wajah masam.

“Kenapa?” tanya Joseph. Tampak bahwa ia semakin gundah.

Richard menghela nafas. “Lihatlah dunia ini, Joseph. Hanya perempuan yang tinggal selamanya di samping pria dengan alasan cinta. Maaf Joseph, aku ragu kalau kita punya alasan untuk bersama selamanya...” desah Richard terbata-bata. “Tapi aku ingin menikmati apa yang bisa kita nikmati sekarang…” sambungnya pelan dan terasa tanpa asa.

Keduanya lalu terdiam lagi. Cukup lama. Hari-hari terakhir mereka bersama di Kenya, menjadi hal berat yang menggelayuti hati mereka. Richard mendekap lebih erat bahu Joseph.

Mentaripun semakin tenggelam di barat. Cahaya langit mulai redup. Perlahan Joseph melepaskan dekapan Richard di tubuhnya. Perlahan ia bangkit berdiri.

”Semakin dingin. Sudah gelap...” desah Joseph sambil beranjak meninggalkan tepi danau itu.

Richard menyusul mengikuti langkah pelan Joseph yang menuju sebuah villa kecil yang tak jauh dari tepi danau itu. Di tengah-tengah langkah, Richard meraih lengan Joseph. Richard menarik, dan segera memeluk Joseph erat. Joseph merasakan bibir Richard di bibirnya. Batin mereka bergemuruh. Emosi mereka menggoncang. Gundah mereka beradu menjadi emosi yang meluapkan keinginan terdalam mereka.

Dan sekali lagi senja di danau itu menjadi saksi, saksi yang tak akan mengatakan kepada siapapun selain membiarkannya menjadi satu memori dari sepasang anak manusia. Memori tentang perasaan yang mereka rahasiakan dari siapapun.


Inggris, akhir tahun 1940.

“Apa itu, Ibu?” seorang anak laki-laki berumur 8 tahunan bertanya pada ibunya.

“Paket pos, Sayang. Tapi Ibu belum tahu isinya.” jawab si ibu sambil tersenyum.

“Apakah kado Natal? Aku boleh lihat?” tanya anak itu lagi.

“Biar Ibu membukanya dulu. Kau makanlah, di dapur Bibi Lidia membuatkan pie apel untukmu.” bujuk si ibu.

Anak laki-laki itu membalas dengan senyum lebar, sambil bergegas menuju ke dapur. Sedangkan si ibu sambil menenteng sebuah bungkusan kotak di tangannya beranjak menuju ke ruang lain di rumah itu.

Ibu anak itu, seorang perempuan berumur 30 tahunan. Wajahnya masih terlihat remaja, dengan rona-rona merah di pipinya. Rambut pirangnya digelung sedemikian rupa. Dengan gaun tebal musim dingin, ia melangkah ringan ke sebuah ruangan di rumah itu. Ia seorang perempuan yang anggun dan menampilkan kesan ketegaran dalam dirinya.

Di sebuah ruang baca, perempuan itu mengambil sebuah kursi duduk. Ia mengamati bungkusan yang diterimanya dari petugas pos siang itu. Ia mengernyitkan kening ketika meneliti identitas pengirim yang sama sekali tidak dikenalnya. Lalu ia mulai membuka sampul paket kiriman itu. Didapatinya sebuah kotak cover piringan hitam bertulisan besar “Mozart”. Ia juga mendapati sebuah amplop surat di dalamnya. Dengan penasaran dibukanya juga amplop itu dan menarik kertas surat di dalamnya. Dia mulai membaca surat itu.

Kepada Richard, kawan lama yang kurindukan.

Richard, bagaimana kabarmu? Aku berharap semua baik-baik saja denganmu. Aku minta maaf karena tak ada balasan dari surat-suratmu sebelumnya. Setelah bertahun-tahun kau berhenti mengirim surat, kini aku membalasmu, untuk mengabarkan beberapa hal yang sangat perlu untuk kau ketahui.

Sesungguhnya aku hampir tak punya keyakinan untuk menulis surat ini padamu, karena aku ragu akan alamatmu yang sebenarnya di Inggris. Sampai akhirnya secara kebetulan aku bertemu dengan Tuan Mallaby di Nairobi, teman ayahmu, yang menurut pengakuannya pernah mengunjungimu di London sekitar setahun yang lalu. Dia tak banyak bercerita tentangmu, dia hanya memberiku alamatmu dan menceritakan bahwa kau telah menikah dan berputra. Seandainya aku bisa membuka suratmu sejak awal, aku pasti akan tahu lebih awal soal pernikahanmu sebagaimana pernah kau kabarkan melalui surat terakhirmu. Dan tentunya aku tak akan terlambat memberimu ucapan selamat. Sayang sekali, aku baru bisa membuka surat-suratmu beberapa minggu lalu.

Aku telah meneliti surat-suratmu pada Joseph. Surat terakhirmu sudah sembilan tahun yang lalu kau kirim. Sejak itu kau tak pernah mengirim surat lagi. Dan aku sungguh menyesal untuk mengatakan padamu bahwa Joseph tak pernah membuka surat-surat darimu itu. Dia hanya menyimpannya di dalam laci, tanpa pernah membacanya. Itulah sebabnya tak pernah ada balasan untuk surat-suratmu.

Kau perlu tahu Richard. Setelah kau tak lagi tinggal di Kenya, Joseph banyak berubah. Dia tak lagi periang. Dia hanya melamun seharian. Dia terlalu kehilangan seseorang yang tampaknya sungguh berarti baginya. Sepertinya dia tak pernah bisa menerima kepergianmu.

Sejak kau pulang ke Inggris, Joseph seolah-olah tak menganggapmu sudah pergi. Bahkan beberapa tahun terakhir, ia terlalu aneh bagi kami semua. Aku sendiri tak pernah berhenti cemas bila melihatnya berlaku seolah-olah kau masih ada di dekatnya. Dia sering bicara sendiri. Kadang seperti sedang bicara denganmu. Kami tak bisa menghentikan ketidaksadarannya. Dia begitu rapuh sejak kau pulang ke Inggris. Dan saat itu kami tak ingin menceritakannya pada siapapun, termasuk kepadamu.

Kau dekat dengan Joseph, tapi aku dan orang lain tak pernah cukup dekat denganmu. Aku sendiri tahu keakraban kalian, meskipun aku tak dapat mengerti. Aku tahu Joseph ternyata sangat membutuhkanmu, tapi aku tak paham alasannya. Kami tak tahu bagaimana mengatasi masalahnya. Joseph tak mungkin menyusulmu ke Inggris. Sejak perang pertama dulu kami sudah tak punya aset apapun di Inggris. Milik kami sekarang hanyalah tanah perkebunan di Kenya. Dan kami tak mungkin memintamu kembali ke Kenya. Sangat tak sopan rasanya.

Kini kami hanya bisa memberitahu semua keadaan itu, setelah semua sudah berakhir. Hal penting yang ingin kukabarkan padamu, bahwa Joseph telah meninggal. Dia pergi ke Danau Sonachi untuk berenang. Dia pulang dalam keadaan terserang malaria. Seharusnya bisa tertolong. Tapi dia seperti tak cukup bersemangat untuk tetap hidup. Joseph meninggal 20 April lalu. Kami semua kehilangan dia. Dan aku ingin kau tahu, mengingat dia sangat dekat denganmu. Namamu disebutnya beberapa kali pada detik-detik terakhirnya.

Kami menganggap penderitaan batin Joseph yang tak kami pahami telah berakhir. Kami menerimanya sebisa mungkin. Sejak meninggalnya, aku baru bisa membuka surat-suratmu yang disimpannya di laci dalam kamar. Aku telah baca semuanya, bagaimana kau berusaha membuatnya untuk menerima kenyataan. Tapi, apa yang terjadi pada adikku adalah seperti yang telah kuceritakan. Kenyataan tampaknya memang bisa berbeda di mata tiap orang. Aku tak ingin menyalahkan siapapun, Richard. Aku hanya ingin kau tahu apa yang telah terjadi.

Aku juga mengirimkan piringan hitam milik Joseph. Seingatku, dulu itu adalah pemberianmu juga. Sekarang, aku ingin kau menyimpannya kembali. Kau lebih paham tentangnya daripada kami semua.

Maaf bila aku telah merepotkanmu dengan apapun yang kusampaikan padamu. Sampaikan salamku pada istrimu, Joyce. Dan juga putramu, aku tak tahu namanya. Semoga kalian menjadi keluarga yang bahagia. Terima kasih.”


Salam dariku,
Emily Balley



Perempuan itu melipat kembali kertas surat yang telah selesai dibacanya. Tangannya gemetar. Ia termenung di kursi di ruang baca itu, beberapa menit lamanya. Matanya nanar menatap sebuah potret besar yang terbingkai di dinding. Tampak bahwa ada suatu pergumulan batin dalam dirinya.

Perlahan kemudian ia bangkit, menghampiri potret besar itu. Ia menatap diam. Di samping potret itu, terbingkai juga sebuah piagam kecil dengan sebuah medali. Ia menyentuhkan jarinya menelusur tulisan-tulisan di piagam itu. Matanya tampak mulai berkaca-kaca membaca tulisan di piagam itu. “Medali Penghormatan Richard Winston Bradbury, Prajurit Inggris Raya, Gugur sebagai Pahlawan di Kota London, 7 September 1940.”

“Richard… Aku tak tahu seandainya ada masa lalu yang tak pernah kau ceritakan. Tapi bagiku kau seorang suami yang akan selalu kucintai. Kau adalah ayah yang akan dibanggakan oleh anakmu. Aku tak peduli apa masa lalu yang tak pernah aku tahu…” Perempuan itu akhirnya tak bisa menahan air matanya. Ia mulai terisak di depan potret besar suaminya. Beberapa waktu lamanya dia berdiri dalam luapan kesedihannya, sendiri di ruang itu.

“Ibu, aku mencari piringan hitam ayah…” tiba-tiba anak laki-laki perempuan itu masuk dan memecahkan keheningan dengan pertanyaannya.

Perempuan itu segera mengusap matanya yang basah. Dengan agak gugup ia menjawab anaknya. “Ada di laci meja ruang depan, Sayang…”

“Sepertinya itu milik ayah…?” tanya anak itu tanpa memperhatikan wajah sembab ibunya, menghampiri kotak cover piringan hitam di atas meja baca.

“Bukan itu, Sayang… itu milik teman Ibu. Kamu putar yang milik ayah saja, ambillah di depan…” cegah perempuan itu pada anaknya.

Si anak cemberut. Dia masih tak sempat menyadari wajah ibunya yang berusaha menyembunyikan sisa-sisa airmatanya. Ia lalu beranjak hendak keluar dari ruangan itu.

“Joseph…” tiba-tiba perempuan itu memanggil anaknya.

Si anak menoleh. “Ada apa, Ibu?” tanyanya polos.

Perempuan itu memandangi wajah putranya yang mungil dan tampan itu. Lalu ia mulai tersenyum. “Putarlah lagu kesayangan ayah…” ujarnya lembut.

Si anak tersenyum lebar. “Lagu kesukaan ayah, kesukaanku juga…” jawabnya sambil beranjak pergi dengan bersemangat.

Perempuan itu kembali seorang diri di ruang itu. Dia lalu kembali duduk di kursinya tadi. Sambil duduk dia menatap potret besar suaminya lagi. Wajah perempuan itu kembali muram.

“Joseph nama yang kau berikan untuk anak kita… Kau juga menyebutnya saat kami menemani saat-saat terakhirmu di rumah sakit London. Kau mengigau nama itu…” Perempuan itu mulai bergumam lirih sendirian. “Siapa yang sebenarnya kau panggil…?”

Lamat-lamat mulai terdengar alunan suara dari gramaphone, rekaman Konser Klarinet Mozart. Alunan melodi mulai mengaliri udara ruang-ruang dalam rumah itu. Perempuan itu menutupkan telapak tangan ke wajahnya. Tubuhnya tergoncang, menggumam gemetar. “Aku mencintaimu Richard…”



*****
end

Tentang Tuhan

Suatu ketika saya berbincang dengan teman saya tentang Tuhan. Perbincangan dimulai ketika dia terlalu ingin tahu tentang mantan pacar saya yang terakhir. Dia bertanya tentang agama mantan pacar saya itu. Saya jawab apa adanya bahwa agamanya Hindu. Dia sempat menebak bahwa penyebab putusnya hubungan kami adalah karena agama kami berbeda. Mantan pacar saya Hindu, dan saya Kristen.

Tapi jujur, bukan soal agama yang membuat saya dan mantan pacara saya itu dulu putus. Saya menjelaskan pada teman saya bahwa kami selalu saling menghormati dalam hal agama. Kami saling mendoakan menurut cara yang kami yakini masing-masing. Teman saya itu heran dan bertanya, "Lho, bukannya tuhan-nya beda? Kok bisa saling mendoakan?"

Saya akhirnya balik bertanya dengan memberi sedikit pendekatan. "Aku dengar temanku yang orang Muslim berdoa dalam bahasa Arab dan doanya pernah terkabul. Mantan pacarku pernah bilang dia juga berdoa dalam tata cara Hindu dan doanya juga pernah terkabul. Aku sendiri biasanya berdoa dalam nama Yesus dan doaku juga pernah terkabul. Pertanyaannya, yang mengabulkan doa-doa itu tuhan yang warna-warni atau Tuhan yang hanya satu saja?"

Akhirnya dengan agak enggan teman saya menjawab, "Tuhan yang satu". Saya setuju dengan jawabannya. Bagi saya, Tuhan hanya satu. Manusia mendekati dan memahamiNya dengan banyak cara. Saya tak suka ribut mencari alasan versi mana yang benar tentang Tuhan. Saya lebih suka dengan apa yang dihasilkan seseorang ketika seseorang itu bertuhan, tak peduli pemahamannya tentang Tuhan itu seperti apa.

Itulah mengapa saya tak pernah memaksa mantan pacar saya dulu itu untuk berpindah agama. Sebab kalau saya sendiri disuruh membuktikan bahwa Yesus itu benar-benar ada, saya tak akan bisa. Kasusnya saya rasa juga akan sama kalau saya meminta mantan pacar saya untuk menghadirkan Sang Hyang Wisnu di depan saya. Berbuah kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain, menurut saya itu pembuktian nilai hidup yang lebih berharga. Tak perlu konversi agama untuk tujuan yang tidak prinsipil dari diri sendiri.

Sekedar mengenang, saya putus dengan mantan pacar saya yang Hindu adalah karena orientasi yang berbeda dalam menjalin hubungan, yang ada kaitannya dengan masa depan kami masing-masing. Setidaknya kami tetap menjadi teman baik hingga saat ini.