...
Hari ini Tyo berulang tahun. Bukan kebiasaanku memberi ucapan ulang tahun ke seseorang, karena aku sendiri jarang menerima ucapan selamat setiap aku berulang tahun. Jadi sebenarnya, it's not a big deal for me.
Tapi masalahnya, yang sedang berulang tahun adalah Tyo. Mungkin bagiku hari ulang tahunnya tidak berarti apa-apa karena kenyataannya juga tak ada pesta yang membuatnya mengundangku untuk hadir. Tapi aku melihat dari sisi lain, mungkin hari ulang tahun Tyo berarti baginya. Kalau itu mungkin berarti baginya, kenapa aku tak mengambil sebuah kesempatan untuk menunjukkan bahwa aku peduli dengannya, setidaknya aku membuktikan bahwa aku ingat dengan hari yang mungkin berarti baginya: hari ulang tahunnya? Aku memutuskan, aku harus memberinya ucapan selamat.
Tapi apa yang harus aku ucapkan? "Selamat ulang tahun, semoga panjang umur..." , begitu? Tyo bukan anak polos yang duduk di bangku SD. "Selamat ulang tahun, semoga kasih Tuhan Yesus Kristus senantiasa menyertai..." , amin? Please, ratusan teman Kristennya juga akan mengucapkan kalimat itu, kenapa aku harus mengucapkannya juga seolah kalimat klasik itu tak punya juru bicara yang cukup? Aku bukan orang yang baik dalam mengucapkan sebuah ucapan selamat. Tapi setidaknya aku harus bisa membuat ucapan yang tak akan diucapkan orang lain pada saat yang sama, karena ini harus membuktikan bahwa apa yang aku ucapkan untuknya adalah spesial. Setidaknya, bila mungkin dia akan mengingat kalimat itu dia juga mengingat bahwa kalimat itu hanya diucapkan olehku, padanya.
Aku berpikir seperti orang mencari barang bagus di tempat sampah. Ya, pikiranku sudah seperti tempat sampah sejak aku menjadi 'pendengar yang baik' bagi orang-orang yang suka membicarakan masalah pribadi mereka padaku hampir tiap hari. Kini saatku untuk menyampaikan sebuah 'persepsi' arti ulang tahun, aku tak ingin membicarakan pada orang lain sebelum aku menyampaikannya pada Tyo. Aku tak ingin membuatnya dari sampah-sampah yang ada di kepalaku. Jadi, aku harus melupakan masalah-masalah orang lain yang pernah mereka 'bagi' padaku, paling tidak sejenak kepalaku menjadi bersih, dan aku bisa melihat apa yang berasal dari diriku sendiri untuk kuberikan pada Tyo.
Perhatianku tulus. Niatku baik. Aku menyampaikan apa yang ingin kusampaikan pada Tyo, bukan nasehat orang, bukan kutipan lagu, bukan contekan puisi, bukan comotan Alkitab.
Entah karena apa telponku tak diangkatnya. Maka aku mengirim sms-ku, setelah lewat pukul dua belas malam, ketika tanggal sudah menjadi 27 Juli 2008.
"Belajarlah pada sperma. Kamu hidup karena 1 sel sperma berhasil membuahi 1 sel telur, mengalahkan jutaan sel lainnya. Kamu lahir karena satu hal yang terbaik telah tercapai. Hidupmu selanjutnya, jalanilah dengan pilihan yang terbaik. Selamat ulang tahun yang ke 22, apapun artinya itu bagimu. GBU. I always miss you."
Apapun yang telah kuucapkan padanya, entah berkesan bagaimana, aku tahu Tyo menangkap pesanku untuknya. Dia mahasiswa biologi, tak akan rumit untuk memahami 'sperma'. Dan dia telah memiliki seorang kekasih, yang semakin menguatkannya untuk menolakku. Tapi, aku yakin dia akan mengerti bahwa selama dia memilih dengan keyakinan pada yang terbaik, aku akan belajar menerima tepukan sebelah tangannya tanpa merasa kalah. Yang lebih besar dari itu, aku telah lama siap pada kenyataan bahwa pilihan hidupnya tak akan menyatu dengan pilihan hidupku. Dan untuk itu, aku juga akan belajar untuk berbesar hati.
Selamat ulang tahun Tyo...
Aku juga masih tetap percaya, bahwa Tuhan Yesus selalu menyertaimu...
...
28 Juli 2008
20 Juli 2008
...
______________________________________________
Cinta
Sampai ubanku tak menyisakan hitam
Dan keriput menghias setiap lekuk di wajahku
Aku tak ingin berhenti mencintaimu
Aku akan meraba pipi yang menarik senyum di bibirmu
Aku akan meletakkan kepalaku di dadamu
Mendengar denyut jantungmu sebagai waktu dari seluruh hidupku
Lalu merasa sendiri
Dan ingin menangis menyadari betapa kau tak pernah di sini
Di sisiku mendekap rindu dalam sejatimu
Atas siapapun aku di depan dunia yang senyap
Meraih tanganmu dari alam asa
Mengulurkan hati dan menyembuhkan jiwaku selamanya
Mencari tanda kapan kau datang
Membawaku pulang menebus semua kehampaan
Di manapun adamu
Dalam kurun tabir yang letih kukuak sepanjang waktu
...
10 Juli 2008
Dualisme
________
Tyo:
Dia adalah seseorang dengan wajah yang katanya mirip denganku. Sedikit lebih pendek, dengan berat badan yang sama denganku. Umurnya lebih muda dariku. Di depanku dia memanggilku, "Mas..." Di HP-nya, namaku ditulisnya: Kampretz. Saat aku ingat fakta itu, aku ingin memeluknya.
Dia suka tidur. Suka menonton TV dengan cuma memakai kaos dalam. Dia sering ketiduran di sofa kalau bosan dengan yang ditontonnya. Aroma tubuhnya mengandung pheromon yang sangat cocok denganku. Dan parfumnya pas dengan seleraku. Saat aku ingat fakta itu, aku ingin menciumnya.
Dia pendiam. Pemalu. Tapi agak egois. Bisa main piano. Bisa menyanyi dengan bagus. Bisa memasak dengan rasa lumayan. Dia sudah punya pacar, teman kampusnya. Saat aku ingat fakta itu, aku ingin merebutnya.
Karena aku mencintainya...!!!!
Toy:
Dia adalah seseorang yang sangat narsis,
dengan wajahnya yang sangat gay.
Tapi dia selalu bilang bahwa gay itu dosa. Sedikit lebih tua dari
Tyo, tapi tetap lebih muda dariku.
Dia biasa memanggilku dengan namaku. Tapi seringkali dia memanggilku, "Sayang..." Saat aku ingat fakta itu, aku ingin menamparnya.
Dia partner di tempat kerjaku. Intonasi suaranya sering kemayu. Tapi dia selalu bangga dengan statusnya sebagai penyanyi band. Cukup pesolek, dengan atribut dan asesoris yang sering dari hasil pinjaman. Tapi bau tubuhnya tak pernah mendukung gaya kerennya. Saat aku ingat fakta itu, aku ingin muntah di depannya.
Dia banyak bicara. Sering curhat hal-hal yang membosankan. Sering merengek, lalu membanding-bandingkan orang. Pola pikirnya sering tidak logis. Selalu berharap setiap film punya adegan sex. Dia pernah berkata padaku bahwa suatu malam dia memimpikanku, sampai 'basah'. Saat aku ingat fakta itu, aku ingin menggantungnya !!!
Karena aku membencinya...!!!!
Tyo:
Dia adalah seseorang dengan wajah yang katanya mirip denganku. Sedikit lebih pendek, dengan berat badan yang sama denganku. Umurnya lebih muda dariku. Di depanku dia memanggilku, "Mas..." Di HP-nya, namaku ditulisnya: Kampretz. Saat aku ingat fakta itu, aku ingin memeluknya.
Dia suka tidur. Suka menonton TV dengan cuma memakai kaos dalam. Dia sering ketiduran di sofa kalau bosan dengan yang ditontonnya. Aroma tubuhnya mengandung pheromon yang sangat cocok denganku. Dan parfumnya pas dengan seleraku. Saat aku ingat fakta itu, aku ingin menciumnya.
Dia pendiam. Pemalu. Tapi agak egois. Bisa main piano. Bisa menyanyi dengan bagus. Bisa memasak dengan rasa lumayan. Dia sudah punya pacar, teman kampusnya. Saat aku ingat fakta itu, aku ingin merebutnya.
Karena aku mencintainya...!!!!
Toy:
Dia adalah seseorang yang sangat narsis,
dengan wajahnya yang sangat gay.
Tapi dia selalu bilang bahwa gay itu dosa. Sedikit lebih tua dari
Tyo, tapi tetap lebih muda dariku.
Dia biasa memanggilku dengan namaku. Tapi seringkali dia memanggilku, "Sayang..." Saat aku ingat fakta itu, aku ingin menamparnya.
Dia partner di tempat kerjaku. Intonasi suaranya sering kemayu. Tapi dia selalu bangga dengan statusnya sebagai penyanyi band. Cukup pesolek, dengan atribut dan asesoris yang sering dari hasil pinjaman. Tapi bau tubuhnya tak pernah mendukung gaya kerennya. Saat aku ingat fakta itu, aku ingin muntah di depannya.
Dia banyak bicara. Sering curhat hal-hal yang membosankan. Sering merengek, lalu membanding-bandingkan orang. Pola pikirnya sering tidak logis. Selalu berharap setiap film punya adegan sex. Dia pernah berkata padaku bahwa suatu malam dia memimpikanku, sampai 'basah'. Saat aku ingat fakta itu, aku ingin menggantungnya !!!
Karena aku membencinya...!!!!
Apakah Aku Sedang Dikutuk? Siapa Yang Mengutukku?
Aku pernah mencintai seseorang bernama Aga. Sebelum jatuh cinta padanya, aku sudah mencintai seseorang bernama Tyo. Apakah aku mendua? Memang. Tapi aku bisa membela diri karena cintaku pada Tyo bertepuk sebelah tangan. Apa aku harus selamanya berharap padanya? Sempat aku menjawab "Iya !" Tapi kemudian seseorang bernama Aga datang dalam hidupku dan membuatku mendapat alasan untuk meralat keputusanku untuk berharap pada Tyo selamanya. Aga adalah orang yang membuatku belajar untuk lebih mencintai seseorang yang lebih memberi harapan pada diriku. "Welcome Aga, goodbye Tyo!" pikirku saat itu.
Tapi enam bulan keadaan berubah lagi. Aku putus dengan Aga. Yang pasti aku tidak bunuh diri hanya gara-gara itu. Tapi lambat laun, hubunganku yang gagal dengan Aga membuatku kembali mengharapkan cinta lama. Tak tahu kenapa. Hatiku bergerak dengan sendirinya.
Aga kini menjadi seorang teman, sedekat apapun kami tetap tak akan menyebut satu sama lain sebagai pacar. Tyo kini menjadi harapanku lagi.
Kenapa begini Tuhan?!!! Aku kangen dia.
Aku kangen Tyo. Aku kangen lagi.
Aku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya pada orang yang sama. Tapi dia lebih sulit dibanding yang dulu. Entah aku tak tahu. Tyo banyak berubah. Lebih beku. Lebih cuek. Lebih kaku. Tapi aku lebih menggebu. Kenapa begini Tuhan?!!!
Belakangan semakin menyebalkan. Ada seseorang yang selama ini selalu membuatku sebal. Seseorang yang nama depannya sama dengan nama depan Tyo. Dan nama itu sangat spesifik bahkan jarang dipakai di lingkungan orang Kristen meskipun nama itu 'sangat Kristen'. Nama yang sering kuanggap sebagai nama istimewa karena menjadi nama depan orang yang kucintai. Tapi ternyata orang lain, yang sering membuatku sebal, juga memakai nama itu sebagai nama depannya. Semula aku berusaha menerima fakta menyebalkan itu. Tapi akhir-akhir ini, fakta semakin menyebalkan. Persona non grata itu tak hanya memiliki nama depan yang sama dengan Tyo. Tapi belakangan dia juga mulai memperkenalkan nickname barunya: TYO.
Argggghhhhh!!!!! Kenapa begini Tuhan????!!!!!!!!!!
Dua orang, satu kucintai, satunya lagi kubenci, memakai identitas nama yang sama. Image Tyo yang kucintai mulai menjadi terdistorsi, berbaur dengan image orang yang kubenci. Aku berikrar, aku tak akan memanggil orang yang kubenci itu dengan nama TYO, meskipun dia merekomendasikan nama itu. Dan di sini, mulai sekarang, aku akan menulisnya dengan nama TOY.
Tyo, di sini, tetap menjadi nama orang yang kucintai. Seseorang yang kuharapkan lagi. Setidaknya Aga mendukungku untuk mencintai Tyo lagi. Aga memang baik. Aga sangat pengertian. Tyo dan Aga menjadi dua orang yang kucintai, dengan cara dan tujuan yang berbeda.
I love you Tyo !
I hate you Toy !
Tapi, aku masih bertanya-tanya... Kenapa Tuhan, kenapa????!!!!!!!!
Tapi enam bulan keadaan berubah lagi. Aku putus dengan Aga. Yang pasti aku tidak bunuh diri hanya gara-gara itu. Tapi lambat laun, hubunganku yang gagal dengan Aga membuatku kembali mengharapkan cinta lama. Tak tahu kenapa. Hatiku bergerak dengan sendirinya.
Aga kini menjadi seorang teman, sedekat apapun kami tetap tak akan menyebut satu sama lain sebagai pacar. Tyo kini menjadi harapanku lagi.
Kenapa begini Tuhan?!!! Aku kangen dia.
Aku kangen Tyo. Aku kangen lagi.
Aku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya pada orang yang sama. Tapi dia lebih sulit dibanding yang dulu. Entah aku tak tahu. Tyo banyak berubah. Lebih beku. Lebih cuek. Lebih kaku. Tapi aku lebih menggebu. Kenapa begini Tuhan?!!!
Belakangan semakin menyebalkan. Ada seseorang yang selama ini selalu membuatku sebal. Seseorang yang nama depannya sama dengan nama depan Tyo. Dan nama itu sangat spesifik bahkan jarang dipakai di lingkungan orang Kristen meskipun nama itu 'sangat Kristen'. Nama yang sering kuanggap sebagai nama istimewa karena menjadi nama depan orang yang kucintai. Tapi ternyata orang lain, yang sering membuatku sebal, juga memakai nama itu sebagai nama depannya. Semula aku berusaha menerima fakta menyebalkan itu. Tapi akhir-akhir ini, fakta semakin menyebalkan. Persona non grata itu tak hanya memiliki nama depan yang sama dengan Tyo. Tapi belakangan dia juga mulai memperkenalkan nickname barunya: TYO.
Argggghhhhh!!!!! Kenapa begini Tuhan????!!!!!!!!!!
Dua orang, satu kucintai, satunya lagi kubenci, memakai identitas nama yang sama. Image Tyo yang kucintai mulai menjadi terdistorsi, berbaur dengan image orang yang kubenci. Aku berikrar, aku tak akan memanggil orang yang kubenci itu dengan nama TYO, meskipun dia merekomendasikan nama itu. Dan di sini, mulai sekarang, aku akan menulisnya dengan nama TOY.
Tyo, di sini, tetap menjadi nama orang yang kucintai. Seseorang yang kuharapkan lagi. Setidaknya Aga mendukungku untuk mencintai Tyo lagi. Aga memang baik. Aga sangat pengertian. Tyo dan Aga menjadi dua orang yang kucintai, dengan cara dan tujuan yang berbeda.
I love you Tyo !
I hate you Toy !
Tapi, aku masih bertanya-tanya... Kenapa Tuhan, kenapa????!!!!!!!!
Langganan:
Postingan (Atom)
