Aku sedang terkantuk-kantuk saat itu di depan meja kerja. Tak tahu apa yang harus aku lakukan karena tak ada pekerjaan yang harus aku lakukan selain menunggu pelanggan datang. Rasanya aku jenuh dengan rutinitas ini karena tak terimbangi oleh hati yang terpelihara. Seperti mengejar makan tapi tak pernah mendapat minum.
Sampai akhirnya ada sebuah sms menyapa HPku. Aku hanya bisa terkejut. Lalu terpana. Aku membaca sms-mu. Seperti kerumunan semut yang semula berjalan ritmis, kemudian disiram air dan segera beriak kacau dan pecah ritme mereka. Hatiku mengombak. Aku segera melangkah dan hampir berlari keluar dari ruang kerjaku, meninggalkan temanku berjaga sendirian. Tapi aku yakin dia mengerti aku harus melakukan ini, mencari counter yang bisa memberi pulsa untuk membalas sms-mu.
Tapi counter di sekitar tempat kerjaku semua tutup. Hari minggu, hampir semua tutup! Aku mengumpat! Aku kembali ke ruang kerjaku meraih kunci kontak sepeda motorku. Temanku mengijinkanku dengan berharap imbalan sebatang rokok, dan aku segera memburu pulsa. Demi kamu. Demi kamu, Aga.
Aku marah-marah sambil mengendali sepeda motorku karena counter-counter yang aku tahu semua tutup di hari kudus orang Nasrani itu. Aku harus berputar-putar mencari counter yang buka malam itu. Sampai akhirnya kutemukan juga, counter yang bisa memenuhi harapanku. Pulsa sepuluh ribuan segera mengisi nomor HPku. Aku mulai lega. Akhirnya aku lega. Tinggal mencarikan sebatang rokok untuk teman yang berjasa memberiku ijin malam itu untuk sejenak meninggalkan tempat kerja demi pulsa. Dan demi kamu, Aga.
Aku kembali ke tempat kerja. Aku masih harus melayani pelanggan-pelanggan yang mulai datang, sebelum akhirnya aku menemukan sedikit waktu senggang untuk menuju ruang di belakang. Dan aku menelponmu. Setelah sekian lama aku tak pernah berhasil menelponmu, dan tak pernah menerima kabarmu, akhirnya aku menemukan waktu ini kembali. Aku menelponmu, dan kau mengangkat telponku.
Aku terpana mendengar suaramu lagi. Kita melewati basa-basi, sampai akhirnya kau menanyakan pertanyaan yang aku suka darimu. "Awan sudah makan...?" Aku ingin menangis mendengar itu kamu bisikkan di telingaku lagi. Hanya kamu dan ibuku yang selalu menanyakan itu. Tidak ada orang lain. Kamu pasti tahu, mengapa aku merasa dekat denganmu, dan merasa sangat kehilangan ketika kamu tak pernah lagi mengajakku bicara.
Sayang aku tak banyak waktu saat itu untuk bicara lebih lama denganmu. Aku harus menunggu selesai jam kerjaku. Menunggu jam sepuluh malam untuk mendengar suaramu lagi. Tapi aku bersabar menanti itu. Aku percaya kamu juga akan bersabar menantiku, karena kita berdua berjanji saat itu bahwa kita akan bicara lagi.
Dan jam sepuluh malam pun tiba setelah susah payah aku menantinya. Aku menelponmu. Dan kamu terbangun dari tidurmu. Masih sama, kamu selalu ketiduran. Tapi malam itu menjadi malam yang cantik rasanya, ketika kau jujur padaku, "Seharian Aga kangen sama Awan. Gak tau kenapa..."
Aku jadi ingat, satu malam sebelumnya, aku menulis puisi untukmu di blog ini. Karena saat itu aku juga merasa sangat kangen padamu. Apakah mungkin sebuah perasaan dalam hati telah melepaskan sebuah getaran melampaui dimensi ruang, rindu yang menyeberang menggapai hatimu? Apakah ada sesuatu yang telah terjadi di dunia tabir yang membuat kita merasa rindu satu dengan yang lain? Aku tak tahu. Aku hanya bisa sampai pada satu hal untuk kumengerti, akhirnya kita bicara lagi.
Malam itu aku bernyanyi lagi untukmu. Aku menemukan lagi jiwaku untuk menyanyikan laguku untukmu. Dan kau memujiku lagi. Meski aku tahu dan mengerti, kita tak lagi bernyanyi sebagai seorang kekasih. Kini kita akan bernyanyi sebagai dua orang, yang entah untuk alasan apa, merasa kita tak seharusnya terpisah lagi.
Aku ingin kita tetap satu Aga, meski aku bukan untuk menjadi pendampingmu di masa depanmu. Kita tak boleh berpisah, meski suatu saat kita akan menemukan cinta baru kita masing-masing. Rasa perhatian jangan lagi dipersalahkan. Karena itu yang kita butuhkan bukan?
Suatu saat, kita akan menemukan titik terang dari hidup kita masing-masing. Tapi aku percaya, itu tak akan pernah menjadi alasan untuk memisahkan perasaan kita. Karena perasaanku adalah, menyayangimu... Dan aku ingin kau tetap menyayangiku...
Percakapan panjang kita semalam menepis kabut yang selama ini menyamarkan hati kita. Dan ketika kantuk mengelus mata kita, kita pun menutup percakapan kita. Dan aku mengucapkan kata-kata yang aku suka untukmu, "Beli sayang kapining adhi... Beli tresna kapining adhi... Met bobok..."
Tampilkan postingan dengan label Kangen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kangen. Tampilkan semua postingan
19 Mei 2008
17 Mei 2008
“Beli Tresna Kapining Adhi”
Pagi hari ini aku terbangun
Aku tak ingat tadi malam aku bermimpi atau tidak
Yang kuingat sebelum tidur aku berharap akan bermimpi
Sekarang seperti aku telah menyeberang peta waktu
Untuk kembali lagi di titik jarum jam yang sama dengan pagi kemarin
Dan tak ada yang kubawa meski sekedar seraut wajah
Dari pejaman angan-angan sepanjang malam
Biasanya suaramu pun masih terngiang karena malam mendekap sapamu
Dekat di telingaku di sepanjang kantuk sampai tidur dan terbangun lagi
Biasanya selimutku hangat hingga pagi karena bayangmu menyamar
Menelusup di antara selimut yang kurengkuh sepanjang malam
Karena aku tak pernah ingin kau hilang
Aku masih mencoba mencari tandamu
Entah itu sisa rasa yang terekam di kulitku ketika kau memelukku
Atau tawamu yang terekam di udara ketika aku bernyanyi untukmu di kamar ini
Aku mencoba bernyanyi lagi tapi keindahan lagu kita seperti melati yang sudah layu
Setiap pagi namamu semakin layu
Hatiku semakin kering
Hanya rindu yang membuatku bertahan
Untuk tetap mencarimu meski harus menanggung naif diri yang rasanya pahit
Aku mencintaimu
Masih mencintaimu
Meski hanya untuk sekedar mengungkapkannya lewat sekelumit sapa
Tapi kau sudah hilang
Terang waktu yang warna-warni semakin pucat
Rasanya aku semakin ingin menutup mata
Untuk menemukanmu dengan cara yang aku bisa
Meski aku masih selalu gagal
Menjadikan mimpi sebagai jembatan menghampiri jiwamu yang sudah membisu
Karena jiwaku
Belum bisu…
Aku tak ingat tadi malam aku bermimpi atau tidak
Yang kuingat sebelum tidur aku berharap akan bermimpi
Sekarang seperti aku telah menyeberang peta waktu
Untuk kembali lagi di titik jarum jam yang sama dengan pagi kemarin
Dan tak ada yang kubawa meski sekedar seraut wajah
Dari pejaman angan-angan sepanjang malam
Biasanya suaramu pun masih terngiang karena malam mendekap sapamu
Dekat di telingaku di sepanjang kantuk sampai tidur dan terbangun lagi
Biasanya selimutku hangat hingga pagi karena bayangmu menyamar
Menelusup di antara selimut yang kurengkuh sepanjang malam
Karena aku tak pernah ingin kau hilang
Aku masih mencoba mencari tandamu
Entah itu sisa rasa yang terekam di kulitku ketika kau memelukku
Atau tawamu yang terekam di udara ketika aku bernyanyi untukmu di kamar ini
Aku mencoba bernyanyi lagi tapi keindahan lagu kita seperti melati yang sudah layu
Setiap pagi namamu semakin layu
Hatiku semakin kering
Hanya rindu yang membuatku bertahan
Untuk tetap mencarimu meski harus menanggung naif diri yang rasanya pahit
Aku mencintaimu
Masih mencintaimu
Meski hanya untuk sekedar mengungkapkannya lewat sekelumit sapa
Tapi kau sudah hilang
Terang waktu yang warna-warni semakin pucat
Rasanya aku semakin ingin menutup mata
Untuk menemukanmu dengan cara yang aku bisa
Meski aku masih selalu gagal
Menjadikan mimpi sebagai jembatan menghampiri jiwamu yang sudah membisu
Karena jiwaku
Belum bisu…
17 April 2008
Arti Sebuah Perhatian
Siapa orang yang suka menyempatkan diri untuk bertanya-tanya apakah kau sudah makan, apakah kau sudah mandi, atau kau sedang apa? Ada? Mungkin dia adalah ibumu. Atau mungkin ayahmu, atau kakakmu atau adikmu. Apakah terasa akan beda jika itu tak ditanyakan padamu? Terasa kau lebih bebas, atau terasa kau kurang diperhatikan? Penerimaan dan perasaan orang pasti beda-beda. Ok.
Tapi aku teringat dengan seseorang yang selalu membuatku merasa lebih kuat ketika dia mengirim sms untuk sekedar bertanya, "Yank, udah makan?" Atau dengan sempat-sempatnya mengirim sms untuk menyuruh, "Awan, bangun! Udah siang waktunya maem. Mandi dulu!" Mungkin rasanya bawel kalau yang melakukan adalah orang lain. Kalau dia bukan pacarku, aku pasti sudah balas smsnya, "Cape deee..." Tapi dia orang yang dengan cintanya mau memberiku perhatian yang walaupun kecil tapi terasa menguatkanku. Dia memberiku tanda bahwa dia ada di suatu tempat memikirkanku, tak membiarkan aku berpikir sendiri. Aku merasa lebih kuat dengan perhatiannya yang tulus.
Kami tak lagi pacaran karena suatu hal. Tapi sms-smsnya masih tersimpan di ponselku dan sesekali masih kubuka untuk mengingatkanku akan arti sebuah perhatian. Perhatian yang tak menyerah oleh jarak yang memisahkan kami. Apa yang kusimpan tentangnya, masih memberikan kekuatan yang dulu pernah kurasakan. Kami masih mencintai meski hasrat untuk memiliki tak penuh lagi.
Aga, I miss you honey...
Tapi aku teringat dengan seseorang yang selalu membuatku merasa lebih kuat ketika dia mengirim sms untuk sekedar bertanya, "Yank, udah makan?" Atau dengan sempat-sempatnya mengirim sms untuk menyuruh, "Awan, bangun! Udah siang waktunya maem. Mandi dulu!" Mungkin rasanya bawel kalau yang melakukan adalah orang lain. Kalau dia bukan pacarku, aku pasti sudah balas smsnya, "Cape deee..." Tapi dia orang yang dengan cintanya mau memberiku perhatian yang walaupun kecil tapi terasa menguatkanku. Dia memberiku tanda bahwa dia ada di suatu tempat memikirkanku, tak membiarkan aku berpikir sendiri. Aku merasa lebih kuat dengan perhatiannya yang tulus.
Kami tak lagi pacaran karena suatu hal. Tapi sms-smsnya masih tersimpan di ponselku dan sesekali masih kubuka untuk mengingatkanku akan arti sebuah perhatian. Perhatian yang tak menyerah oleh jarak yang memisahkan kami. Apa yang kusimpan tentangnya, masih memberikan kekuatan yang dulu pernah kurasakan. Kami masih mencintai meski hasrat untuk memiliki tak penuh lagi.
Aga, I miss you honey...
Langganan:
Postingan (Atom)
