Hari ini aku menjalankan tugas kerjaku untuk mencari beberapa client yang berstatus 'wanted'. Aku bersama partner kerjaku, seorang cewek yang lebih muda dariku tapi sudah berkeluarga, menempuh jarak ke arah barat sekitar 15 kilometer dari pusat kota dengan motor untuk menemui client bermasalah itu.
15 kilometer sebenarnya bukan jarak yang terlampau jauh untuk kami tempuh dengan motor. Tapi 15 kilometer ternyata cukup signifikan untuk merubah suasana kota yang padat dan ramai menjadi suasana desa yang jarang dan sepi. Woowww... kami tiba di pedesaan yang tak hanya sepi, tapi juga tanpa lampu jalan sedangkan sore sudah mulai remang-remang. Memang karena suatu alasan kami hanya punya waktu untuk 'kunjungan' itu pada sore hari.
Kami harus bertanya kesana kemari untuk menemukan rumah client pertama yang ternyata, setelah kami temukan rumahnya orang yang bersangkutan tidak ada di rumah. Kami hanya bisa pasrah menghadapi salah satu anggota keluarganya yang benar-benara tidak tahu apa-apa. Kami harus menunda urusan dengan client pertama.
Menemukan client kedua yang masih satu wilayah kecamatan dengan client pertama justru lebih makan hati. Kami sampai nyasar berkali-kali untuk mengikuti petunjuk yang diberikan oleh orang-orang yang kami tanyai. Dengan susah payah kami akhirnya berhasil menemukan Dusun Saradan. Kami bertanya kepada segerombol ibu-ibu yang sedang ngrumpi di perempatan gang (kebiasaan yang tak asing di dunia ibu-ibu terutama di daerah bukan kota).
"Bu, numpang tanya, rumah Mas Hari Purwanto yang mana ya?"
"Ooo... Mas Hari-nya Giyem ya?"
"Iya, iya..." (Giyem? siapa itu? emang gw pikirin... yang penting dijawab iya dulu lah).
"Rumahnya di deret gang sebelah utara itu yang letaknya paling timur..."
Setelah berterimakasih kami pun dengan optimis menuju ke rumah yang sudah ditunjukkan ibu-ibu tapi. Tapi surprise...! Setelah dengan yakin kami sampai di rumah yang ditunjukkan ibu-ibu tadi, kami pun bertanya kepada salah satu penghuni rumah apakah benar di rumah itu ada yang bernama Hari Purwanto, dan si empunya rumah hanya geleng-geleng dengan lugu. Bahkan ketika kami juga bertanya apakah di rumah itu ada yang bernama Giyem, si empunya rumah tetap konsisten dengan geleng-gelengnya. Malah salah satu tetangga yang ikut nimbrung menyuruh kami untuk mencari di deret gang berikutnya.
Kami pun berusaha tidak menyerah karena sudah jauh-jauh dari kota ke dusun yang membingungkan itu. Kami menemui salah satu orang dusun yang kebetulan ada di luar rumah.
"Pak, numpang tanya, di dusun ini apa ada yang bernama Hari Purwanto? Kalau ada rumahnya sebelah mana ya?"
"Ooo... Hari-nya Giyem ya?"
"Iya iya, Hari-nya Giyem" (OMG... ternyata Giyem ini lebih populer dibanding Hari Purwanto yang kami cari. Ya sudah, ngikut aja...)
"Rumah yang paling timur itu Mas!"
Nah... Akhirnya orang tadi menunjukkan rumah itu dengan jelas karena memang ternyata tak jauh dari situ. Kami pun jadi optimis lagi mendatangi rumah yang ditunjuk tadi. Begitu kami tiba di depan rumah itu kami sudah disambut dengan ramah oleh salah satu empunya rumah. Dengan beramah tamah pula kami bertanya untuk memastikan.
"Betul ini rumahnya Mas Hari Purwanto, Pak?"
"Lho... bukan mas, yang tinggal di sini namanya Hari Setyobudi. Itu anak saya..."
Gubrakkkk... Nyasar lagiiii....
"Tapi ini betul tempatnya Bu Giyem Pak?" tanya temanku (gak penting tapi nekat...)
"Iya, Giyem itu istri saya... Tapi anak saya namanya Hari Setyobudi, bukan Hari Purwanto..."
Kami berdua shock. Tambah shock lagi, orang-orang dusun mulai berduyun-duyun ikut nimbrung dan mengintrograsi kami. Mampuusss... Geger sudah dusun nan tentram ini gara-gara kami cari alamat gak jelas!
"Oo, Hari Purwanto rumahnya yang sana Mas, pojok gang yang sebelum ini!" tiba-tiba salah satu warga dusun ada yang interupsi.
Orang yang tadi memberitahu kami rumah Bu Giyem cuma manggut-manggut sambil nimbrung, "Oo, jadi yang tinggal di sini bukan Hari Purwanto tho?" Halaahhh...
"Bisa tunjukkan kami yang rumahnya Mas Hari Purwanto Pak?" tanyaku ke orang yang tadi interupsi.
"Kalau Hari Purwanto-nya sudah sebulan ini kerja di Malaysia Mas, jadi TKI..."
Tuh kannn.... DAMN ! DAMN ! DAMN !!!!!
Akhirnya kami pulang dengan perasaan gagal dan malu pada diri sendiri karena tak menghasilkan prestasi kerja yang bagus hari ini. Client yang bersangkutan tidak ada di rumah itu memang di luar kendali kami. Tapi setidaknya kami mestinya bisa menghemat waktu supaya pencarian untuk client-client yang lain tidak terhambat. Waktu kami ludes di Dusun Saradan yang benar-benar menyesatkan kami. Siapa yang salah? Orang-orang dusun yang sukses memberi alamat sesat? Bu Giyem yang terlalu populer sehingga mengecoh spekulasi kami? Atau kami yang terlalu pede mempercayai petunjuk dari orang-orang dusun yang hobi ngrumpi? Terserah. Yang pasti kami masih harus mengejar wanted client yang lain.
Jalan gelap. Tidak rata. Melewati sawah-sawah. 5 kilometer dari jalan raya. Itulah yang kami hadapi untuk keluar dari Dusun Saradan. Temanku cewek membonceng di belakang tidak bisa mendiamkan mulutnya. Tapi setidaknya aku mulai terhibur dengan kelatahannya. Karena dia penakut di tempat gelap dan sepi, sepanjang jalan dia membaca doa-doa nonstop. Ketika kami melewati sebuah kuburan, makin keraslah dia berdoa. Padahal di hari-hari biasa, setahuku dia tak pernah menyentuh sajadah. Ternyata dia pandai bahasa Arab kalau lagi berdoa.
Kami lega bisa keluar dari Dusun Saradan. Kami sampai di pusat kota lagi. Tapi kini kami harus menuju ke timur sejauh 5 kilometer dari pusat kota. Client ketiga adalah client yang sangat bermasalah, seorang anak SMA yang sepertinya gagal dididik PPKn. Kali ini dengan mudah kami berhasil menemukan rumahnya.
Tapi lagi-lagi, bukan orangnya langsung yang kami temui karena yang bersangkutan sedang keluar rumah, tapi ayahnya yang bertampang galak. Tapi karena sudah bertekad bulat, kami tetap menjelaskan masalahnya supaya bisa mendapatkan solusinya. Kami harus berbicara secara alot dengan ayah client kami. Untung ternyata sang bapak tidak emosional. Tampangnya galak, tapi jalan bicaranya logis dan kooperatif. Sang bapak geram-geram begitu tahu masalah anaknya. Bahkan sang ibupun ikut campur sampai berdebat sengit dengan sang bapak. Kun Fayakuun... Jadilah yang harus terjadi, suami istri cek cok di depan kami yang sebenarnya hanya ingin ketemu anaknya.
Dan si anak pun akhirnya pulang. Meledaklah drama keluarga di rumah itu. Sang ibu menampar anaknya di depan kami. Wooowww... Kekerasan dalam rumah tangga yang biasanya hanya kami lihat di film atau sinetron kini benar-benar terjadi di depan mata kami. Kami sebenarnya tak berharap drama ini terjadi, setidaknya bukan di depan kami.
Tapi, yang penting akhirnya kami lega karena masalah dengan client kali ini dapat diselesaikan. Kami akhirnya pulang dengan tidak terlalu malu karena setidaknya ada hasil yang dibawa. Hanya saja, kami harus rela dikerjai hujan dalam perjalanan pulang kami. Heuuhhh... Melelahkan.
Hari ini, dari apa yang telah aku hadapi dalam tugas pekerjaanku, aku merasa hidup itu seperti petasan. Kadang kita menyalakan tindakan dengan sangat optimis, tapi nyatanya berakhir dengan 'mlempem' alias 'mejen'. Tapi kadang tindakan yang kita nyalakan memang bisa 'meledak' dengan sukses. Yang paling aman memang tidak usah menyulut petasan itu. Tapi kalau kita tak pernah menyulut petasan, kita juga tak akan pernah merasakan sensasi dari ledakannya.
Tampilkan postingan dengan label Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hidup. Tampilkan semua postingan
19 April 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
